
Senin, 18 April 2011
Melihat rejeki Allah di setiap peluang

Kamis, 24 Maret 2011
Sholat dan manajemen waktu manusia
Rabu, 23 Maret 2011
Ayo bergerak!!!

Kamis, 10 Maret 2011
Cinta dunia dan akhirat
Kamis, 24 Februari 2011
Sedikit mengingatkan tentang sholat
Rabu, 23 Februari 2011
cerita di suatu pagi
Pagi tadi aku bersama suamiku makan ketoprak di pinggir jalan margonda... Tiba-tiba kulihat seorang bapak tua menyebrang dari sebrang jalan tempat kami makan, tak kusangka ternyata ia seorang buta dengan peci di kepala dan tongkat yang digunakan untuk berjalan. Sayangnya trotoar pemisah jalan itu berpagar, sehingga si bapak tua kesulitan menyebrang. Ia harus menyusuri jalan hingga menemukan celah tanpa pagar, agar ia bisa melanjutkan jalan ke sebrang. Aktivitas makanku berhenti sejenak untuk memperhatikan si bapak tua, tak terpikirkan bagaimana caranya ia dapat menyebrang, tak bisa kubayangkan bagaimana jika ia tertabrak kendaraan yang melaju kencang di jalan besar itu. Tapi ternyata tidak semua pengguna jalan raya itu begajulan, mereka pasti paham bahwa yang sedang menyebrang adalah seorang bapak tua yang buta dengan peci di kepala dan tongkat yang digunakan untuk berjalan, sehingga ada seorang pengemudi motor yang melambai-lambaikan tangan ke atas agar pengemudi kendaraan lainnya yang dibelakang dapat memperlambat laju kendaraannya. Dan akhirnya si bapak tua itu sampai ke tujuan dengan selamat. Subhanallah, Allah Memberikanya tak dapat melihat, namun Ia selalu Memberikan perlindungan bagi setiap hambaNya...Selasa, 23 Februari 2010
Sebuah renungan...
Rabu, 17 Februari 2010
Nikah siri dan poligami, haramkah??!
Kamis, 07 Januari 2010
FOKUS !!!
Kayaknya sering banget kita denger kalimat itu, dibilang basi gak juga sih! soalnya emang hidup itu penuh dengan pilihan-pilihan dan memaksa kita untuk memilih...
Semester depan adalah semester terakhirku, berarti aku akan menghadapi ujian akhir yang tentunya diawali dengan skripsi. Tapi bukan cuma skripsi, masih ada 3 mata kuliah lagi yang harus aku ambil! sepertinya cukup berat... Beberapa pilihan muncul, berhenti kerja di MaPPI, berhenti ngajar di D3 atau berhenti 2-2nya. Setelah dipikirkan baik-baik dengan kepala dingin dan hati tentram (apaan sih?!), akhirnya aku melepas tawaran ngajar untuk semester depan. Aku tetep mempertahankan kerja karena aku masih ingin bekerja disini setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Setelah aku bicara dengan sekretariat D3, Mas Parman yang sangat baik hati membolehkan aku "istirahat" ngajar untuk fokus di akhir kuliahku dan kembali mengajar tahun ajaran berikutnya.
Yah, sekarang waktunya serius beresin kuliah (padahal dari awal kuliah juga udah serius qo!). Saat ini yang aku harapkan ingin membanggakan kedua orang tuaku dengan memberikan dua huruf di belakang namaku "S" dan "E", syukur2 kalo bisa ngasih "kursi kehormatan" untuk mereka.
Ya Allah, hanya kepada Engkau aku meminta...
hanya kepada Engkau aku memohon pertolongan...
Yup, ini adalah salah satu pilihanku! bismillah, semoga Allah Meridhoi...
Senin, 23 November 2009
NO LIMIT!!!
Allah Maha Sempurna, Maha Kaya, Maha Segala-galanya... Allah memberikan berbagai macam potensi pada makhlukNya. Tanpa kita sadari, kita memiliki banyak sekali potensi. Hanya yang tidak mau berusaha untuk menggali dan mengembangkan potensi, yang tidak akan mengetahui potensi-potensi yang ada di dalam dirinya.
Buatku waktu sangat terbatas tapi yang ingin dilakukan tidak terbatas. Sebisa mungkin aku memanfaatkan setiap detik waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, termasuk waktu untuk istirahat harus digunakan secara efektif...
Sifat ini dianugerahkan oleh Allah dan diturunkan dari kedua orang tua yang juga pekerja keras dan selalu mencari kesibukan (dalam konteks positif). Belum lagi lingkungan yang sangat mendukung. SMP mulai aktif ekstrakurikuler, SMA aktif organisasi, dan kuliah tempat menunangkan segala kemampuan dan potensi yang aku miliki. Setelah keluar dari kuliah (meskipun sekarang masih ngelanjutin kuliah), aku berusaha mewujudkan semua yang telah ku "pelajari" menjadi suatu perbuatan yang nyata.
Mungkin beginilah hidup. Manusia bermetamorfosis dan selalu melakukan perubahan. Man jadda wa jadda, bagi yang ingin berusaha maka ia akan memperoleh apa yang diinginkan. Bekerjalah bagaikan kamu akan hidup selamanya, maka jangan pernah batasi diri kita dengan keterbatasan.
Rabu, 08 Juli 2009
Zaman Jahiliyah Modern
Ketika kita belajar Agama Islam waktu sekolah dulu, kita menganggap bahwa jahiliyah memiliki arti secara bahasa yaitu kebodohan, suatu zaman sebelum Rasul memperkenalkan Islam. Salah satu tokoh yang menggambarkan kejahiliyahan pada saat itu adalah Abu Jahl, pasti kita tidak asing lagi dengan namanya. Abu Jahl adalah nama populer dari 'Amr ibn Hisyam. Sesungguhnya ia merupakan tokoh quraisy yang ditakuti karena sifat kerasnya dan pernah mengakui bahwa dirinya adalah ‘aziizul kariim (orang perkasa lagi mulia). Ia menjadi salah satu penentang ajaran Rasul, dan “mengintimidasi” Abu Thalib (paman Rasul) untuk tetap menganut agama nenek moyang disaat beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Jahiliyah yang sering diartikan sebagai kebodohan, kemiskinan, atau keterbelakangan sepertinya tidak sejalan dengan apa yang dimiliki oleh Abu Jahl. Tetapi justru ialah biang kejahiliyahan, yang merabunkan pandangan masyarakat saat itu terhadap kebenaran, menutup telinga atas ajaran tauhid, dan menghalangi orang untuk beribadah kepada Allah.
Pertama, tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Saat ini banyak masyarakat kita yang mengaku beragama Islam namun tidak mau menjalankan apa yang telah diperintahkan, tidak mau menerima seluruh konsekuensi dari agama pilihannya, menerima segala aturan Allah dengan setengah-setengah dan masih percaya dengan kebiasaan nenek moyang seperti yang dilakukan oleh orang-orang quraisy.
Kedua, tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan oleh Allah, namun hanya mengikuti hawa nafsu manusia. Dimana aturan yang seharusnya berdasarkan Al-Quran dan Hadits namun ternyata dibuat berdasarkan subjektivitas dan logika pribadi.
Ketiga, hadirnya thaghut yang membujuk manusia untuk tidak taat kepada Allah. Thaghut bukan hanya berarti berhala atau sesembahan, tetapi segala sesuatu yang di-Tuhan-kan oleh manusia. Para remaja misalnya, tidak sadar bahwa artis yang mereka idolakan bisa menjadi thaghut. Para penguasa tidak menyadari bahwa “kursi” yang mereka duduki atau kendaraan yang mereka gunakan juga bisa menjadi thaghut.
Keempat, adanya sikap menjauh dari agama Allah. Banyak manusia yang tidak merasa bersalah jika melakukan apa yang Allah larang. Kedzaliman sudah menjadi hal yang biasa, kemaksiatan menjadi pemandangan sehari-hari. Banyak orang membenarkan hal yang biasa, bukan membiasakan hal yang benar dan sesuai syariat. Kesalahan dianggap maklum, yang dicari adalah pembenaran bukan kebenaran.
Intinya, jahiliyah itu adalah syirik. Sadar atau tidak sadar, kita (termasuk saya) sering berada dalam kejahiliyahan. Bahkan kejahiliyahan dapat diatur atau diskenariokan oleh Abu Jahl-Abu Jahl modern saat ini. Bagaimana membentuk masyarakat yang takut dengan Islam, anti-syariat. Namun, kita masih bisa keluar dari kondisi ini dengan tetap berpegang pada apa yang telah diturunkan oleh Allah. Semoga kita bukan merupakan bagian dari masyarakat jahiliyah...
“Allah ta’aala Peindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 257)
Wallahu ‘alam bishawab
Rabu, 06 Mei 2009
hikmah dari satu kalimat
Hmmmm… MUI.
Jadi teringat ketika tempat itu menjadi tempat yang memiliki tingkat kenyamanan cukup tinggi buatku, terutama ketika aku masih menjadi mahasiswa kelas pagi. Sambil jalan aku mendengar seseorang sedang menyampaikan ceramah ba’da sholat dzuhur, mungkin seorang ustadz. Sebenernya sih gak terlalu fokus ngedengerin, soalnya aku langsung masuk ke tempat wudhu. Tapi ada satu kalimat yang paling aku tangkep dari ceramah ustadz itu…
“tidak ada satu makhluk pun yang tidak mengetahui siapa Tuhannya”
Setelah berwudhu segera kumasuki tempat sholat akhwat di lantai 2. Kutunaikan sholat dzuhur ditambah dengan sunnah rawatib, kemudian kubiarkan tubuhku beristirahat sejenak untuk menikmati berada di tempat ini lagi. Ternyata masjid ini masih memiliki tingkat kenyamanan yang cukup tinggi buatku! Sayangnya aku tak bisa terlalu lama karena aku harus kembali ke depan komputer untuk menyelesaikan pekerjaan dan tugas kuliah.
Selama perjalanan pulang, kucerna kembali kalimat yang disampaikan ustadz pada ceramah tadi.
“tidak ada satu makhluk pun yang tidak mengetahui siapa Tuhannya”
Tentu saja! Karna sesungguhnya setiap benda yang ada di alam raya ini berdzikir menyebut nama Allah dengan caranya masing-masing. Belum lagi manusia yang ruhnya ditiupkan disaat hari ke 120 berada di rahim ibunya, telah berjanji untuk mengakui bahwa Allah-lah Tuhan mereka.
Salah satu sifat dasar manusia adalah memiliki rasa ketergantungan. Sebagai ummat Islam, tentunya sifat ketergantungan ini seharusnya ditujukan hanya pada Allah. Kadang aku merasa heran dengan manusia yang sudah mendapatkan begitu banyak nikmat dunia (mulai dari nikmatnya sehat, bisa memakan makanan apapun yang diinginkan, mendapatkan nilai baik, pekerjaan baru dengan gaji tinggi, and the bla… bla… bla…) tetapi tidak menyadari bahwa seluruh nikmat itu berasal dari pemberian Allah. Sehingga tidak ada yang dilakukannya untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Contoh sederhananya, mau menerima nikmat tapi tidak mau disuruh sholat.
Atau ada juga manusia yang begitu banyak mendapatkan kesulitan (rezeki tidak lancar, badan tidak sehat, mendapatkan nilai jelek, kehilangan pekerjaan, susah mendapatkan jodoh, and the bla… bla… bla…) tidak menyadari bahwa sesungguhnya yang dia terima itu adalah pemberian Allah juga. Saking tidak bersyukurnya, ia hanya bisa meratapi nasib dan menyalahkan Tuhannya tapi tidak mau merubahnya dengan beribadah lebih sungguh-sungguh.
Fabi ayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan…
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Semoga ini menjadi sebuah renungan
Senin, 04 Mei 2009
cerita kehidupan atas nama CINTA
Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Allah tidak menciptakan kita, makhluk-Nya, selain karena satu hal yaitu: CINTA.
Setiap benda di angkasa yang diciptakan untuk kemudian bergerak, berputar atau beredar dengan teratur... Setiap benda di bumi yang diciptakan kemudian tumbuh, jatuh, mengalir, atau terbang ke arah angin yang menghembusnya... Setiap bunga yang mekar, setiap ulat yang berubah menjadi kupu-kupu indah... Semua tercipta karena cinta. Seperti kata Ibnu Qayyim dalam Taman Para Pencinta, semua gerak di alam raya ini, di langit dan bumi, adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta. Subhanallah...
Ya, Allah menciptakan kita karena Ia mencintai kita... Bahkan jika Allah tidak mendapatkan manfaat dari ciptaan-Nya, maka tidak ada yang dapat menjelaskan motif di balik cerita kehidupan itu kecuali hanya satu kata: CINTA. Mengutip tulisan Anis Matta dalam Serial Cinta.
Percayakah kau bahwa Allah mencintaimu?
Dan apa yang telah kau lakukan untuk membalas cinta Allah kepadamu?
Buktikanlah kalau Allah tidak sia-sia menciptakanmu dan memberikan kau kesempatan untuk hidup...
Balaslah cinta Allah dengan seluruh cinta yang kau miliki, cinta terhebat yang tak pernah kau serahkan selain hanya kepada-Nya.
Ya Allah,
ketika kudekati diri-Mu sejengkal, maka Kau menghampiriku sehasta.
ketika kudekati diri-Mu dengan berjalan, maka Kau menyambutku dengan berlari...
inginnya aku menghambur untuk melebur dengan cinta-Mu.
disaat aku tak bisa mendefinisikan cinta-Mu kepadaku...